Mamuju, RelasiIndonesia.com–Dalam momentum resmi Wisuda Universitas Muhammadiyah Mamuju (Unimaju), keberadaan atribut organisasi otonom Muhammadiyah, termasuk bendera Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), memiliki makna simbolik yang sangat penting. Namun, pada pelaksanaannya, Unimaju tidak memasang bendera IMM di panggung acara. Tidak hadirnya simbol IMM ini kemudian dianggap sebagai pengabaian terhadap jati diri dan kultur Muhammadiyah yang seharusnya menjadi ruh penyelenggaraan amal usaha pendidikan.
Universitas Muhammadiyah Mamuju sebagai penyelenggara acara, serta Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, khususnya kader dan pimpinan cabang yang memandang hal ini sebagai bentuk kelalaian institusional. IMM, sebagai organisasi otonom dan pengendali ideologis dalam tubuh Muhammadiyah, berkepentingan bahwa identitas persyarikatan selalu terjaga dalam setiap aktivitas amal usaha.
Kejadian ini mencuat pada momen pelaksanaan rapat senat luar biasa dan prosesi wisuda Unimaju tahun berjalan, saat seluruh simbol akademik dan ortom Muhammadiyah ditampilkan kecuali bendera IMM. Bagi kader IMM, momen setingkat wisuda bukan hanya seremoni kelulusan, tetapi juga ruang simbolik yang menegaskan hubungan organik antara perguruan tinggi dan organisasi induk.
Peristiwa ini terjadi di ball room hotel maleo, Universitas Muhammadiyah Mamuju sebuah amal usaha Muhammadiyah yang secara struktur dan spirit semestinya menjunjung nilai-nilai persyarikatan. Ruang prosesi wisuda atau rapat senat adalah ruang yang seharusnya memancarkan identitas Muhammadiyah secara penuh, termasuk representasi organisasi otonomnya.
Kritik ini hadir karena ketiadaan bendera IMM dipandang sebagai bentuk pemutusan simbolik antara Unimaju dengan akar ideologisnya.
Padahal, IMM bukan sekadar organisasi mahasiswa biasa; IMM adalah kaderisasi inti Muhammadiyah yang berfungsi menjaga marwah, arah, dan corak pemikiran amal usaha. Ketika identitas IMM diabaikan dalam acara resmi, hal itu menunjukkan minimnya apresiasi terhadap peran strategis IMM sebagai penjaga ideologi dan penggerak budaya akademik Muhammadiyah.
Kabid HPKP PC IMM Mamuju, Risnu Wardana, “ini bukan sebagai kesengajaan belaka, melainkan gejala struktural yang mengindikasikan mulai memudarnya pemahaman sebagian unsur di Unimaju mengenai posisi IMM dalam ekosistem persyarikatan”.
Alih-alih merespons dengan kemarahan, IMM memilih pendekatan yang lebih elegan: mengirim “surat cinta”sebuah kritik yang tegas namun berwawasan persyarikatan. Surat cinta ini berisi pengingat bahwa Unimaju tidak boleh berjalan sendiri tanpa ruh Muhammadiyah dan tanpa melibatkan IMM sebagai mitra kaderisasi utama.
“Pemasangan bendera bukan soal atribut, tetapi soal identitas, penghormatan, dan konsistensi nilai, yang dimana peran IMM sebagai pengontrol amal usaha Muhammadiyah utamanya dalam lingkup kampus”. Kata Risnu Wardana, Sabtu (22/11).
Dengan bahasa kritis yang tetap santun, IMM mengajak Unimaju untuk kembali merawat hubungan ideologis antara ortom dan amal usaha, memperkuat komunikasi kelembagaan, serta memastikan bahwa simbol-simbol persyarikatan tidak dipinggirkan dalam acara penting apa pun.
“Ketika bendera IMM tidak dipasang, itu bukan hanya soal kain yang absen di panggung, tetapi tentang kehadiran atau absennya ruh persyarikatan. Melalui “surat cinta” ini, IMM mengingatkan bahwa Unimaju harus menjadi rumah yang menjaga identitas Muhammadiyah secara utuh bukan hanya dalam nama, tetapi juga dalam simbol, nilai, dan etos perjuangannya”. Tutup Risnu Wardana
Hingga berita ini diturunkan pihak kampus belum memberikan keterangan resmi terkait berita Hilangnya Bendera IMM di Wisuda 2025.
(Iks)












