Opini  

Rasionalitas Anggaran dan Pertahanan Negara: Pelajaran dari Drone Murah dan Rudal Mahal

Oleh: Dr. Kasmiah Ali, M.A.P
Kepala Lembaga Riset Kebijakan Publik ITBA Al Gazali Barru

Relasiindonesia-opini, Kisah Daud melawan Goliat selama ini dipahami sebagai kemenangan keberanian atas kekuatan raksasa. Namun dalam lanskap perang modern, alegori tersebut menemukan bentuk baru: bukan lagi ketapel dan batu, melainkan drone murah yang secara sistematis mampu menguras senjata mahal milik negara adidaya.

Laporan mengenai penggunaan drone berbiaya rendah oleh Iran yang “memaksa” Amerika Serikat menghabiskan rudal pencegat bernilai jutaan dolar menunjukkan adanya pergeseran mendasar dalam logika peperangan kontemporer. Ketika satu drone seharga puluhan ribu dolar harus dihadapi dengan sistem pertahanan bernilai jutaan dolar, maka perang tidak lagi semata soal superioritas teknologi, melainkan tentang efisiensi biaya.

Di titik ini, muncul konsep yang semakin relevan dalam studi strategis, yakni asymmetric cost warfare, perang yang dimenangkan melalui ketimpangan biaya.

Dalam paradigma lama, kemenangan ditentukan oleh kekuatan militer dan kecanggihan teknologi. Kini, variabel yang semakin menentukan adalah cost-exchange ratio, yakni perbandingan antara biaya menyerang dan biaya bertahan. Jika pihak penyerang mampu mengeluarkan biaya minimal untuk memicu respons pertahanan yang mahal, maka keunggulan teknologi justru berubah menjadi beban. Setiap intersepsi menjadi pengeluaran besar, dan setiap keberhasilan bertahan justru mempercepat kelelahan logistik.

Sebagaimana diingatkan Sun Tzu dalam The Art of War, perang yang berlarut-larut tidak pernah menguntungkan negara. Dalam konteks ini, strategi penggunaan drone murah justru memperpanjang konflik dengan biaya minimal bagi penyerang, sekaligus mempercepat kelelahan bagi pihak yang bertahan.

Strategi ini dikenal sebagai saturation attack, yaitu serangan dalam jumlah besar untuk memaksa sistem pertahanan bereaksi secara maksimal. Tujuannya bukan semata menghancurkan target, tetapi menguras sumber daya lawan. Bahkan ketika sebagian besar serangan berhasil dicegat, dampak strategis tetap tercapai: meningkatnya biaya dan menipisnya cadangan amunisi.

Dengan demikian, perang modern mengalami pergeseran dari war of destruction menuju war of exhaustion dari penghancuran menuju kelelahan.

Dalam konfigurasi ini, Amerika Serikat dapat diposisikan sebagai Goliat besar, kuat, dan berteknologi tinggi, sementara Iran memainkan peran Daud modern: tidak harus lebih kuat, tetapi lebih efisien dan adaptif. Namun kemenangan Daud hari ini tidak terjadi dalam satu pukulan, melainkan melalui akumulasi tekanan ekonomi dan logistik yang berlangsung perlahan.

Fenomena ini bukan tanpa preseden. Perang Vietnam menunjukkan bagaimana kekuatan besar dapat dipaksa mundur oleh strategi berbiaya rendah yang mengandalkan ketahanan jangka panjang. Yang berbeda hari ini adalah skalanya: teknologi murah semakin mudah diakses dan mampu menghasilkan dampak yang jauh lebih luas.

Carl von Clausewitz menyebut perang sebagai kelanjutan politik dengan cara lain. Dalam konteks kekinian, perang juga dapat dipahami sebagai kelanjutan dari kalkulasi ekonomi. Keputusan strategis tidak lagi hanya ditentukan oleh tujuan politik, tetapi juga oleh kemampuan suatu negara dalam menanggung biaya konflik.

Pergeseran ini membawa implikasi penting bagi tata pemerintahan, khususnya dalam kebijakan pertahanan dan pengelolaan anggaran negara. Pertama, belanja militer tidak lagi cukup diukur dari besarnya alokasi, tetapi dari efektivitas dan efisiensi penggunaannya. Kedua, konsep keamanan nasional perlu diperluas, karena ancaman kini tidak hanya datang dari kekuatan besar, tetapi juga dari aktor yang mampu memanfaatkan teknologi sederhana secara strategis. Ketiga, ketahanan fiskal menjadi bagian integral dari pertahanan negara, karena perang pada akhirnya adalah persoalan ekonomi politik.

Fenomena drone murah menandai perubahan penting dalam lanskap global: kekuatan militer tidak lagi dimonopoli oleh negara besar. Teknologi telah meruntuhkan sebagian batas, memungkinkan aktor yang lebih kecil untuk memberikan tekanan signifikan terhadap kekuatan yang lebih besar.

Pada akhirnya, yang paling mengkhawatirkan dari perang hari ini bukanlah kehancuran yang tampak, melainkan kelelahan yang tak disadari, ketika yang kuat perlahan terkuras, bukan oleh serangan besar, tetapi oleh tekanan kecil yang tak pernah berhenti. Yang runtuh bukan hanya pertahanan, melainkan kesadaran bahwa kekuasaan bisa dikalahkan oleh efisiensi yang sabar dan berulang.

Di tengah lanskap global yang kian tak terduga, barangkali yang paling kita butuhkan bukan sekadar kekuatan, tetapi kebijaksanaan dalam menahan diri.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H.
Semoga kita kembali pada kejernihan nurani, sebab di dunia yang penuh strategi dan kalkulasi, hanya hati yang bersih yang mampu membedakan antara kekuatan dan keserakahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *